Skip to content

control valve #2…”buat para process engineer”

August 27, 2008

Seperti pernah gue bilang, kehidupan process engineer itu deket banget sama yg namanya control valve… sama org instrument… :) bisa bikin fall in luv tauk!!!

Gue dapet ini dari sumber yang sebenernya bisa dipercaya… hanya saja karena fotokopian, gue kagak tahu sumbernya apaan… gigigig… Maap…

Menurut gue, sebelum elu pada sizing dan issue process data ke instrument, perlu banget ngerti lebih dalem ttg control valve ini…

Karakteristik contol valve

Ada 3 type basic plug (bagian ngebuka dan nutup yang diatur oleh actuator) dan karakteristik flow, yaitu:

  1. Quick opening – plug (baik single disk/pun double disk) digunakan untuk total shutoff/opening. Single disk biasa digunakan untuk high temperature dan double disk biasa digunakan untuk low temperature.
  2.  Linear Flow – plug yang punya karakter linear flow yaitu yang flowrate melalui valve tersebut proportional dengan pengangkatan/penutupan plug oleh actuator (untuk ngebuka flow). Biasanya linear flow ini dipake buat regulasi liquid level (LCV).
  3. Equal Percentage – plug yang punya karakter equal percentage yaitu yang perubahan dalam flow dalam persen sama persis dengan pergerakan plug dalam persen juga. Biasanya tipe ini dipake buat regulasi pressure (PCV) /flow (FCV). Atau bisa juga dipake pada saat harus mengatur hanya persentase kecil dari overall pressure differential yang tersedia. Atau pada saat harus mengontrol system dimana banyak variasi pressure drop yang melalui control valve

Valve plug bisa berupa tipe disk, solid contoured atau ported.

Sebenernya masih ada lagi satu karakter yaitu modified parabolic – flow diantara linear dan equal percentage. Tipe plug ini (biasanya V – port) digunakan ketika sebagian besar system pressure drop tersedia untuk control.

Safety Requirements

Ketika udara yang dari actuator tidak mengalir (bisa karena kerusakan compressor, atau hal lain), berarti gak ada lagi yg ngebuka/nutup plug si control valve ini kan, gak adanya udara yg bertekanan ini, belum tentu berakibat control valvenya selalu ketutup. Bisa jadi kebuka… kalo mau tahu penjelasan ttg ini, coba buka postingannya neng asta di blog ini.

Salah satu yang process tentukan ya fail position ini. Hubungannya tentu sama safety factor. Buat process engineer, kalo system itu bakalan safe dengan control valvenya ketutup, dibanding ketika control valve kebuka penuh/pun sebagian, ya sudah jelas, process engineer kudu nentuin kalo control valve ini butuh diset fail close. Dan sebaliknya untuk yg fo.

Ada kasus dimana suatu system justru ketutup salah kebuka salah, yg paling aman ya stay di posisi terakhir si control valve kebuka nah yg ketiga ini namanya fail-safe.

Pada prisipnya fail-safe ini akan dibutuhkan ketika temperature/pressure both side upstream/pun downstream proses diusahakan untuk tidak berubah saat control valve gak aktif. Dan fail-nya instrument air ini gak boleh dibiarin lama2. karena walau pun ada back-up fail-position dari control valve, tetep ajah gak akan bener2 bisa menahan hazard terjadi dalam waktu lama.

Contoh2 sistem yang seringkali memiliki default (jangan dianggap sebagai ketetapan… tetep kudu di pelajari lagi sistemnya)

  1. control valve untuk fuel-oil menuju heater burners biasanya fail closed. Safetynya mending burnernya mati daripada overheating
  2. feed menuju ke heater tubes biasanya fail open supaya pas instrument air gagal masih ada fluida yg mengalir untuk dipanasi, kalo fluidanya berhenti, bisa jadi overheating, temperature naik, pressure naik juga.
  3. feed menuju ke fractionating collum, biasanya fail closed
  4. steam supply ke reboiler biasanya fail closed
  5. reflux drum vapor outlet dan reflux pump discharge, biasanya fail open
  6. minimum flow/bypass line di centrifugal discharge line, biasanya fail open
  7. bypass linenya compressor dan reciprocating machine biasanya juga fail open.
  8. feed yg masuk ke reactor, biasanya fail closed… hanya sering juga fail open untuk alasan safety yg lebih kuat.

Kalo dari beberapa kasus di atas, bisa ditarik kesimpulan, buat heater, control valve di hot fluid, biasanya fail closed dan dicold fluid biasanya fail open supaya kalo fail tidak menjadikan overheating.

Capacity Coefficients buat control valve Valve

Buat sizing valve, ada yg dinamain Cv atau valve flow coefficient. Cv ini bergantung pada dimensi internal valve, dan smoothness permukaan di dalam valve. Semakin tua control valve otomatis juga mempengaruhi karakter si Cv ini.

Tukang (apalah namanya) bikin control valve bikin percobaan terhadap si control valve ini pake air pada pressure yg ditentukan untuk membikin kurva Cv ini. Tapi kurang lebih, bisa direpresentasikan dengan persamaan 1.

Cv itu sendiri kalo mau diartikan, adalah index yang mengindikasikan berapa besar volumetric flow-rate (gpm) yang bisa dihasilkan ketika air bersuhu 60oF melewati sebuah control valve yang menyebabkan penurunan tekanan sebesar 1psi.

Jelasnya ketika SG sama dengan 1 dan pressure drop juga 1psi, maka Cv bakalan sama dengan Qnya kan?

Ada lagi namanya calculated flow coefficient atau Cvc. Ketika kita mau sizing control valve kita kudu ngitung Cvc ini pake rumus 2

Cvc ini dihitung dengan menggunakan normal design flowrate dalam gpm. Dari sini bisa di cari valve yang sesuai. Biasanya diambil valve dengan Cv diatas Cvc. Untuk range yang bagus untuk control, Cv diambil yg 1.25 sampe 2 kali Cvc.

Biasanya range tersebut digunakan untuk tipe plug yg equal percentage dan linear flow. Tapi ada juga sih valve yang punya range lebih lebar.

Adalagi namanya Cf, critical flow factor. Untuk liquid flow bisa dianggap subcritical kalo vapor pressure dari liquid tidak akan melebihi pressure terendah pada saat melewati control valve. Boleh dilihat profile pressure yang ngelewatin control valve di gambar berikut ini…

Kalo Pvapor berada di range A atau B bakalan terjadi vaporisasi/kavitasi pada saat dimana Pfluida sama dengan atau kurang dari vapor pressurenya. Kalo PVapornya di range B, berarti akan kembali menjadi liquid lagi. Tapi kalo di range A, maka vapor akan tetap menjadi vapor.

Cavitasi (range B) ini juga gak baik buat control valve, karena akan menyebabkan rapid wear plugnya, dan menyebabkan vibrasi dan noise juga.

Dan kalo berada di range A, saat keluar dr control valve tersebut, fluidanya yg pas awal masih satu phase, bisa jadi jadi 2 phase, ataupun bisa jadi, jadi gas semua.

Apalagi kalo vapor pressurenya ada di atas P1. ya berarti bisa jadi tadinya si fluida ini emg 2phase, dengan persentase tertentu antara gas dan liquidnya, dan akan berubah ketika fuidanya keluar dari control valve. Untuk kasus ini, diameter downstream control valve bisa jadi dibuat lebih besar dari upstreamnya.

Baik untuk liquid maupun gas, ada yang dinamakan critical flow dan subcritical flow. Kapan flow disebut critical flow, kapan disebut subcritical, ntar dilihat di summary di bawah ajah yah…

Untuk gas, critical flow / ketika velocity gas mencapai sonic velocity, sebaiknya di hindari karena bisa menyebabkan noise dan vibrasi.

Critical flow bisa dicegah dengan mengurangi pressure drop yang melalui valve dengan merelokasi valve dalam system atau dengan memilih valve dengan Cf yang lebih besar.

Cf tu dimensionless, dan tergantung jenis valve. Cf itu ratio antara control valve coefficient pada kondisi critical dg flow coefficient yang di keluarkan oleh manufacture.

Valve antara 2 pipe reducer – nah ini ni kasus yg agak nyeleneh… bisa dibilang fenomena lah. flow capacity control valve yang ada diantara 2 pipe reducer sedikit dibawah yang lain. Pada subcritical flow, caranya ngitung pake correction factor, R. kalo di critical flow, correction factornya Cfr yang bakalan mengganti posisi Cf dalam calculation R, dan Cfr juga tergantung pada ratio antara size pipa dan size control valvenya. Untuk lebih jelasnya gimanagimananya liat summarynya ajah.

Kondisi operasi

Fakta-fakta random mengenai control valve:

  • :mrgreen: Control valve biasanya punya size dibawah size upstream pipa atau maksimal sama. Gak pernah diambil lebih gede.
  • :mrgreen: Ukuran control valve bisa dibuat jauh lebih kecil daripada size upstreamnya bila harus mengabsorb pressure drop yang besar.
  • :mrgreen:  Control valve bisa mengakomodasi range kapasitas dan beda tekanan yang lumayan besar. Flowrate dan kondisi proses biasanya sudah ditentukan sebelumnya untuk ngesize piping dan hal lain. Jadi pas sizing control valve mending ngasi data kapasitas~pressure lebih dari satu.
  • :mrgreen: Kadang kalo sistemnya memiliki range kapasitas yang besar, diperlukan hingga 2 control valve secara parallel, satu untuk flowrate yang besar, dan yang lainnya untuk yang kecil.
  • :mrgreen:  Secara umum control valve digunakan juga untuk pressure killer yang lumayan ok. Hampir 1/3 dari overall pressure drop bisa dialokasikan ke control valve dan sisanya tentusaja pada piping dan equipmentnya. Dan pada system yang memiliki beda tekanan yang harus dikill besar, maka bisa jadi semua sisa beda tekan yang belum terakomodir oleh si piping dan kawan2 dialokasikan ke control valve.
  • :mrgreen:  butterfly valve bisa beroperasi dengan pressure drop yang kecil (1 koma psi). biasanya cucok untuk discharge compressor dan line cooling water supply. Tapi trotling, koefisien valve ini bisa turun secara rapih.
  • :mrgreen:  butterfly/ball valve memiliki actuator side mounted karena actuator stemnya bisa memutar as valve. Karakteristik plug untuk hal ini bisa dipengaruhi oleh hubungan antara actuator stem dan valve axle.
  • :mrgreen:  control valve selain jenis butterfly hanya bisa meregulasi flow dengan mengabsorb atau memberi pressure drop ke system.
  • :mrgreen:  perubahan pada density/S.G (atau salah estimasi) memberikan effect minor ke kapasitas valve.
  • :mrgreen:  bila flow melalui valve merupakan critical flow, maka untuk sizing bypass dan line downstream control valve harus bener2 hati2. Karena vaporisasi sepanjang control valve menyebabkan naiknya pressure drop.
  • :mrgreen:  untuk mendapatkan velocity yg masuk akal saat vaporisasi terjadi, maka piping didownstream control valve biasanya jadi lebih besar dibanding di upstreamnya.
  • :mrgreen:  untuk menghindari vaporisasi di control valve bisa juga dg menambah static pressure pada upstream.
  • :mrgreen:  pada tekanan yg tinggi, temperature tinggi, atau beda tekan yg besar, sebaiknya control valve tidak dioperasikan untuk menutup. Karena velocity yg besar, akan menghantam control valve dan akan menyebabkan flow control menjadi tidak akurat lagi, dan menyebabkan kebocoran ketika valve di shutoff.
  • :mrgreen: bypass biasanya digunakan untuk control valve yang lebih kecil dari 2in, atau untuk high viscosity dan lethal, atau untuk liquid yang mengandung solid yang abrasive, dalam boiler feed water service, atau untuk sistem steam yg mengharuskan untuk killing high pressure (lebih dari 100psi). tapi juga sering kali bypass disediakan untuk maintenance si control valve tanpa shutdown sistem.
  • :mrgreen:  untuk konsistensi pada design piping, coefficeient flow untuk bypass valve sebaiknya dibuat sama seperti di control valve berikut pressure dropnya.
  • :mrgreen:  biasanya diplant, control valve ditaruh di grade/platform elevation. dan gampang diaksesnya kecuali untuk valve2 yg kudu di taruh diself-draining pipelines. ini dimaksudkan untuk mempermudah maintenance/quick respon kalo ada apa2 sama processnya.
  • :mrgreen: sebelum dan sesudah control valve biasanya suka dikasih gate valve. biasanya untuk fluida2 yg berbahaya, suka dikasih drain di low pointnya. biasanya untuk fail-open suka dipasang drainnya satu doang, kalo fail-close dikasih 2, upstream dan downstream. untuk maintenance, mereka tutup dua gate valve, trus didrain, dan take out control valvenya deh. untuk kelengkapan lainnya kalo fluida yang nglewatin control valve saturated steam flow, biasanya suka dikasih steam trap di lowest point.
  • :mrgreen:  untuk maintenance control valve, perlu ada space atas bawah kanan kiri buat ngambil control valve ini… that’s why biasanya piping diatas control valve dikasih jarak sekitar 12in.

berikut adalah contoh2 susunan bypass dan control valve… diklik digambarnya ajah kalo mau agak jelasan dikit.

tipe U dipilih ketika inlet dan outlet flow mendekati control valve dari elevasi yg lebih tinggi.

tipe corner dipake kalo flownya dari tinggi ke rendah atau sebaliknya

tipe looped bypass biasanya untuk flow horisontal yg sekitaran grade. untuk ukuran

berikut adalah summary, coba klik di gambarnya ajah, supaya lebih besar

24 Comments leave one →
  1. September 4, 2008 11:50 am

    Interesting post even your language is not in english. But I still understand it because I translate your site in english language. Thanks for sharing.

  2. upieks permalink*
    September 8, 2008 6:58 pm

    hi…
    how did you translate it though? using a tool?
    i’m glad if you could understand….

  3. Wisnu Sudibjo permalink
    November 6, 2008 2:05 pm

    Tulisan yang menarik, sebagai tambahan, coba aja search di google tentang Control Valve Handbook. Lumayan lengkap lah. Oh ya, jaman sekarang gampang kok translate dari bahasa apa aja ke bahasa indonesia atau sebaliknya, cukup pake google language tools aja. Semoga bermanfaat.

  4. upieks permalink*
    November 18, 2008 7:56 am

    @wisnu sudibyo..
    iya… memang banyak banget CV handbook. dan lengkap membahas ttg CV
    hihihi… iya sih emg banyak translator jaman sekarang…
    makasi pak wisnu… makasi…

  5. November 22, 2008 3:10 pm

    Mbak Upieks dan temen2 process saya mau nanya.
    Mungkinkah seorang process engineer mendesain suatu tank atau vessel yang flow inletnya steady, flow outletnya steady, sehingga level nya steady tanpa kontrol…sempurna lah pokoknya sehingga process control system (level transmitter, controller, dan control valve) tidak diperlukan lagi?
    Paling yang dipasang hanya SDV untuk keperluan shutdown.

    Saya nanya temen2 instrument belum ada yang bisa ngasih tanggapan.

  6. tcool permalink
    November 24, 2008 5:23 pm

    aku panggil pak apa mas nih ? heheeee…
    pak Nova, menurutku sih bisa saja suatu tanki (storage tank) atau apalah bisa saja terjadi. klo pak nova bilang flow inlet & outley steady (maksudnya flow inlet = outlet ya pak) saya yakin bisa pak.
    Pada beberapa pabrik konvensional (jadul) sering kok dijumpai yg seperti ini.
    Memang dalam prakteknya (operasi & start-up) pasti diperlukan setting yg lumayan ribet sih, misal bukaan manual valve nya harus diset sedemikian sehingga in=out. atau setting aliran pompa discharge nya disamain dg inlet tank nya.
    Dan kalaupun ada perubahan pada flow in/out nya juga harus diperlukan setting ulang.

    semoga bisa menjawab.
    salam kenal dari sy. Miftahul Arif

  7. upieks permalink*
    December 1, 2008 11:01 am

    mas…

    kalo saya pribadi…kalo tujuannya hanya menjaga level, apalagi kalo zatnya bukan B3 atau bukan pula zat yg mahal harganya, saya setuju dg pak takul… bs bs ajah…

    pengalaman dulu di kuliah, ada tangki yg menjaga levelnya tetap pake prinsip overflow gitu. jadi yg overflow ditampung untuk dibuang tapi inlet dan outletnya tidak steady.
    kalo tujuannya untuk ngejaga supaya inlet dan outlet steady sebenernya juga bisa… hanya menurut saya (gak pernah dapet proyek beginian sih) sedikit menggunakan effort yg berlebihan… seperti pake operator manual.

  8. upieks permalink*
    December 1, 2008 11:03 am

    ini ada beberapa tanggapan dari temen2 lain juga…

    Rachmad Zuhdi
    Sekarang dibalik…..apakah ada suatu process yang inlet & outletnya bener2 steady & konstan kondisi operasinya??

    Klo gak ada berarti inlet & ouletnya butuh control device kan??….sekarang tanya lagi apakah ada sebuah control device (flow control/pressure control Valve) yang bisa mengontrol sempurna 100% flow, pressure yang melewatinya??? Kalo dari system control yang kita pake tetep belum bisa 100 mengontrol system berarti kondisi yang kamu minta itu bener2 susah untuk di terapkan……..

    Sepurane lek jek ngawur & salah monggo dibenerno lek ancen salah heheheee…

  9. upieks permalink*
    December 1, 2008 11:04 am

    Miftahul Arif
    Maksud pertanyaan nya, menurutku begini Met : “Bisahkah kita mendisain suatu tangki tanpa ada 1pun instrument control (e.g : FCV, PCV, LT, dll) yg mana level tangki diinginkan stabil (Acc = 0) ???” gimana pak nova? apakah benar?

    Menurut awak seh bisa-bisa aja Met. Memang dalam praktek operasinya akan sangat ribet, karena perlu setting flow in/out nya agar steady, Setting flow discharge pump (jika ada pompa di outlet tangki), sampe-sampe setting openeing position dari manual valve yang ada.

    Dan memang akan diperlukan seorang operator yg harus selalu monitor level tangki, flow in/out, dll. Trus operator tsb harus segera action untuk resetting jikalau ada perubahan flow in/out nya. (ruwett yooo ????)

    Awak pernah kok melakukan hal seperti ini. Di perusahaan lama ku dulu, aku pernah diminta SPV ku men-setting flow inlet carbon filter. Untungnya waktu itu cuman ada FI (cuman indicator lho Met, bukan control) pada inlet carbon filternya, sehingga bisa bagiku untuk monitor flow yg masuk. Juga ada FI pada outlet sistemnya yg memudahkan awak monitor outletnya.

    CMIIW

  10. upieks permalink*
    December 1, 2008 11:41 am

    @mat…

    awalnya juga aku kepikir soal itu… mana ada di kehidupan nyata sistem yg bener2 steady??? kita engineer kan cmn bisa mengasumsi semua seperti ideal tapi apa ya bener2 steady?

    trus setelah aku baca lagi pertanyaan pak nova… aku jadi bgg. tujuannya sebenernya apa? bikin flow inlet=outlet sehingga steady atau menjaga level sama? walaupun keduanya berkaitan tapi kan tidak selalu selamanya… ketika ada disturbance trus gimana?? kan bs ajah ada akumulasi sehingga level naik atau bisa aja level turun.

    ~sekedar curhat selagi masih mencari jawaban…~

  11. upieks permalink*
    December 1, 2008 1:18 pm

    vidi ardiyanto
    Iku plant apa?? Plant br ato modifikasi… kurang jelas…
    isi veselnya apa? ada reaksi/gak?

    kalo menurutku, harus dilihat dulu.. selain element diatas harus dilihat juga instrument air systemnya ada apa gak?
    kalo gak ada masak ya kudu dipaksa bwt control valve ? operatore dikon nyebul tah???
    tanpa control system sebenernya bisa juga sih kalo menurutku..
    asal harus tetap ada indicator buat manual control, kayak LI atau FI
    tergantung kesulitannya juga sih..
    kalo sulit dikontrol masak operatornya harus melototin Indicator sambil pegang valve???
    Lha trus kapan rokokan’e ???

  12. upieks permalink*
    December 1, 2008 4:53 pm

    ricky agus supriyadi
    kalo kita bicara sistem sederhana bgt dimana tu tanki nerima inlet dari discharge suatu pump dan outlet dari tanki tsb ke suction pump yang lain, itu masih mungkin.

    tapi kalo kita bicara suatu sistem di plant, misalnya di offshore operation, kyknya susah tuh.

    mulai dari well, ke HP separator, terus ke medium/atmospheric separator, terus ke kompressor, pompa, pipeline, itu semua driving force nya saling berkait.

    karena mulai dari sumur ngalir smp tuh fluida di alirin ke pipeline itu saling berkait. lo ngubah setting pressure di downstream pipeline lo maka semua setting harus di modifikasi juga piek. jadi disini bener2 keliatan ngaruhnya driving force yang membawa fluid itu mengalir dari tekanan tinggi ke yang lebih rendah.

    jadi bener2 dynamic bgt piek. menurut gw malah steady state itu ga pernah terjadi di dunia ini..hahhaaa… konservatif bgt yak.

    kalo mo ga pake controller bisa aj sih, tapi harus ada operator yang standby di equipment tsb 24 jam dan siap2 maen2in manual valve nya..hahahaa…

    tapi controller itu kan dibuat utk mengganti peran manusia…

    sebetulnya selama ini kita simulasi steady state di aspen ato hysis itu only for the sake of sizing aj piek. cuma buat ngitung sizing aj.hehheee…

    ntar kalo smpt mampir ke blog lo gw komen deh yak..hehehee…. tapi diskusi yang menarik nih piek..hehehee… keren2..

  13. December 15, 2008 3:48 pm

    Mbak Upieks,

    Wah banyak sekali yang memberikan pendapat. Terimakasih bt mba upieks n friend. Timbul pertanyaan itu karena saya liat separator dgn pemisahan gravity base pada 2 project terakhir saya, water line-nya yang untuk menjaga interface (oil & water) level, saya cari-cari tidak ketemu control valve cuman ketemu sdv. Ada yang beropini bhw temen2 process sudah menghitung sedemikian rupa (flow in flow out, dll) sehingga interface level selalu pada tempatnya tanpa dikontrol. Tanpa takut condensate ikut bablas ke water line, atau waternya ikut bablas ke seberang weir. Nah mungkin ada alasan tertentu? mungkin interface itu sebenarnya nggak ada krn oil dan water tdk betul-betul terpisah di separator sebagaimana teori, sehingga buat apa dikontrol? atau mungkin sebenernya ada dikontrol pake control valve, tp saya aja yang nyarinya gak ketemu-temu🙂.

    Thanks

  14. Kofah Baskoro permalink
    January 10, 2009 8:43 pm

    Mas Nova dan rekan-rekan semua,
    Yang anda lihat mungkin oil-water separator yang kebetulan tidak memakai instrument semacam kombinasi level transmitter & control valve untuk menjaga interface level/total level di dalam tanki.

    Sebenarnya separator tsb tetap didesain oleh process engineer untuk memisahkan oil dan water berdasarkan sifat alami mereka dengan adanya perbedaan spesific gravity.

    Total level dikontrol dengan mekanisme overflow, sedangkan interface antara water dan oil diatur/dikontrol dengan water leg.

    Dalam oil-water separation tentu oil akan terpisah di bagian atas karena lebih ringan dan akan keluar lewat over flow outlet.

    Sedangkan water akan di bagian bawah, hanya saja ketika akan keluar dari separator water ini dipaksa naik dulu melalui pipa water leg baru boleh turun dan keluar dari separator.

    Memaksa water ke atas ini berarti kita membuat keseimbangan hidraulik antara sistem oil-water di dalam separator dan water saja di pipa outlet ke water leg. Keseimbangan hidraulik inilah yang dipakai oleh process engineer untuk menjaga interface level antara oil-water di dalam separator berada di kisaran yang diinginkan/didesain.

    Jadi separator tsb tetap dikontrol mas, tanpa kontrol maka tidak akan tercapai tujuan
    memisahkan oil dari water. Tul nggak? tapi ndak pake control valve. Kok bisa ya..?

    Lebih jauh mengenai pemisahan oil-water dengan water leg system bisa dibaca di:
    Surface Production Operations VOLUME 1 Design of Oil-Handling Systems and Facilities karya Ken Arnold, Maurice Stewart

    Salam,
    Kofah Baskoro

  15. upieks permalink*
    January 12, 2009 2:54 pm

    @ pak nova.
    iya nih pak…
    saya kan masih baru. gak pede kalo jawab sendirian. lagi kan kita bisa share pengalaman sama temen2 jadi setiap ada bahasan di blog saya, selalu saya floorkan. kadang2 mereka gak punya akses bebas ke internet. ya sudah jemput bola saja. hihihi…

    @Pak Kofah Baskoro…
    terimakasih pak sudah diingatkan pada bukunya ken arok… hihihihi…

  16. upieks permalink*
    February 17, 2009 9:12 am

    brian:

    wah,ini dia bahasan yang saya cari. Mengenai sizing control valve. Tapi saya masi agak bingung nih, bagaimana seleksi control valve dengan melihat Cv-nya???

  17. dickaker permalink
    February 24, 2009 9:51 am

    mas mau tanya kalo sistem kerja control valve gimana???? pada sistem heat exchanger???

  18. hanny permalink
    April 19, 2009 3:24 pm

    hmm,,
    kira2 klo saya mw liat simbol flowsheet dimana ya mas???

    mohon bantuannya ya mas?>?

  19. upieks permalink*
    April 20, 2009 11:58 am

    @dickaker dan @hanny
    saya mbak, bukan mas.

    @dickaker system yang bagaimana? di tiap heat exchanger bisa jadi tidak sama. yg prinsip kerja ada kmgknan sama adalah prinsip failing positionnya. untuk cooling water fail positionnya sebisa mungkin FO. sehingga tidak menyebabkan overheated dari hot fluidnya. dan untuk CV dihot fluidnya biasanya failing positionnya FC. kecuali ada aturan2 lainnya.
    kalo pemilihan atau sistem secara kompleks yang melibatkan equipment lain, mgkn perlu pembahasan dari P&ID. kalo emg mau nanya lebih lanjut kirimkan saja P&IDnya. nanti kita bahas bareng2…

    @hanny
    flowsheet yang dimaksud ni flowsheet apa yah? simbol si CV itu sendiri atau bagaimana? kalo yg dimaksud simbol gambar CV mgkn bisa dilihat di legend P&ID.

  20. May 12, 2009 6:28 pm

    mbak upieks
    bagus juga tuh ulasannya, oh ya saya ada pertanyaan sedikit mengenai opening valve yang selama ini saya pakai selalu didesign antara 20-80% opening valve dengan pertimbangan proses yang baik berkisara antara itu dan juga pertimbangan karakteristik masing masing manufacture yang beda. apakah ada standardnya yang menyebutkan hal demikian? misal dari ISA atau dari ANSI?

    thx

    • upieks permalink*
      May 18, 2009 2:33 pm

      didesign antara 20-80% opening valve dengan pertimbangan proses

      ini yg gue tahu yah… ttg kenapa didesign 20% opening valve untuk minimum flow… setahu gue, process ngasih data minimum, normal, maksimum flow supaya instrument bisa sizing valve. setahu gue si instrument tetep gak pake minimum flow = minimum bukaan si valve. masih dikasih safety factor 20% untuk jeda. jadi by mistake flow dibawah minimum flow masih bs… gitu… atau kebalikannya yg maksimum juga ditaruh di 80% opening, by mistake flow diatas maksimum ada, si valve masih bisa…

      juga pertimbangan karakteristik masing masing manufacture yang beda. apakah ada standardnya yang menyebutkan hal demikian? misal dari ISA atau dari ANSI?

      ini gue nanya temen2 instrument, dari mana asal/standard, mereka juga gak tahu. mgkn semacam rule of thumb. mgkn temen2 lain nih… sapa tahu ada yg ngerti…
      hehehe…

  21. bowo permalink
    October 19, 2009 12:20 pm

    mNurut q tuk mnjaga kstabiLan LeveL dalam tangki tow bejana qt design dg close Loop process..dg itu qt cma mmbutuhkan LeveL transmitter sbgai sensing eLement tangki dg output 4-20 mA yang akan mmberi inputan ke LCV 4-20mA jg ( fiNal element )..trus sbagai mediasi antara sensing eLement n fiNal element qt btuh suatu controller,yg biasa dsebut Level indicator coNtroller,yg bisa jg di tampilkan ke PC dg mnggunakan software equipment tsbt..jadi qt gak prlu standby di lokal guna mengetahui kpan n brapa level di dlam tangki,qt hnya standby di dpan layar PC dstu bs tampil smua yg qt btuhkan dri brapa persen level dlam tangki n brapa persen pmbukaan valve.n rangkaian ne bs automatic dlam mnjaga kstabilan level dg menSeting range-range dlm controller tsbt.

    maap kLu da kurang lebihnya…..

  22. Husni permalink
    January 14, 2010 4:46 pm

    artikel yang menarik & sangat bermanfaat..
    thanks a lot y…

    di plant saya, untuk sizing control valve pake program ValSpeQ dari masoneilan.
    mbak upieks familiar ga?
    klo iya, bisa discuss dsini ato japri dong,
    soalnya dsini ga ada yg bs ngajari, jdinya blajar sndiri…

    thanks a lot lg y…

    • upieks permalink*
      January 18, 2010 9:01 am

      alhamdulillah kalo berguna.

      ValSpeQ saya belum pernah pake. palingan intools siii

      thx.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: