Skip to content

oripis versus restriction orifice

July 19, 2007
by

terdengar sama, dan sekilas buat yg gak ngerti2 bgt, pasti ngbayangin sama. hehehe…atau semua udah pada tau yah? karena gue gak tau…as usual, gue baca artikels, kemudian gue tulis ulang dg pengertian gue sendiri. kalo ada yg gak jelas, atau menemui sesuatu yg menurut u guys gak bnr, bilang ajah. atau yg ngerasa gak terima tulisan gue, hehehe…gue pulang gak sendirian kok. ada temennya. intinya gue mau damai, mnt maap…

kali ini gue baca artikel pnya pak nugroho wibisono. org yg sama yg bikin artikel back pressure regulator vs pressure reducer.

buat yg gak tau bedanya…sebenernya dua hal ini tuh barangnya mirip. gue bilang mirip karena gak bener2 sama. ada beda difisiknya yg kurang lebih hal ini lah yg berbuat banyak dalam perbedaan fungsi keduanya. perbedaan itu baru bs dilihat dibawah.

<a
href=”https://upieks.files.wordpress.com/2007/07/no-bevel-dan-bevel.jpg&#8221; title=”no-bevel-dan-bevel.jpg”>no-bevel-dan-bevel.jpg

bevel atau takik atau belokan di oripis ini lah yg membedakan antara keduanya.

buat lebih jelasnya, mari kita lihat profil pressure di bawah.

pressure-oripis-dan-ro.jpg

dr pressure profile upstream dan downstream di atas terlihat pressure yg ngdrop pada oripis dpt dikembalikan/direcoveri karena adanya takik tersebut. sehingga pressure drop upstream dan downstream gak terlalu besar. hal ini sangat diharapkan ketika kita mengeset oripis untuk flowmeter.

dan justru karena tidak ada takik di jenis yg satunya, membuat pressure drop untuk jenis ini membesar karena pressure yg sempat ngdrop tadi gak direcoveri dg lbh baik. hal ini bukan berarti buruk untuk jenis ini, karena ada kalanya kita memerlukan oripis jenis ini untuk membunuh pressure (kalo kata bos to kill the pressure) wekekek…takik dpt menyebabkan banyak hal.

sizing orifice ini sebenernya kurang lebih mirip. menjadi beda karena pressure dropnya yg satunya dijaga tertentu, dan yg satunya dijaga kecil.

btw RO ini jg dipakai untuk membatasi flow rate seperti pada CV. oleh karena itu biasanya RO digunakan untuk menggantikan CV karena mahalnya harga CV. membatasi flowrate sebenernya adalah konsekuensi dr pressure drop yg besar.

coba deh buat gampangnya gue pny kasus yg bs menggelitik logika.

ada selang yg letoy, bs dipencet2, disambung ke kran/ledeng. trus dipake nyiram. jempol dikenyot-kenyot, euy…mantebs. trus dipake untuk menyiram. selang ditutup pake jempol, jadinya airnya makin kenceng, dan jauh. tp kok hal ini gak terjadi di kran? kran makin ditutup makin kecil…kalo menurutku karena pressure dropnya makin besar ketika ditutup…hehehe sotoy bgt yah gue…

kalo dalam P&ID cara membedakannya adalah melihat equipment upstream dan downstreamnya. bila perbedaan pressurenya gak jauh2 amat berarti itu untuk flowmeter, dan yg pasti buat yg flowmeter, ada elemen pengukur/indikator flow disekitar oripis tersebut. sedangkan bila pressurenya jauh, berarti oripis itu dipake untuk mengurangi pressure aliran.

 yg kemaren sempat terlihat sewaktu ngerjain proyek, RO ini seperangkat dg yg lain tentunya, dipake untuk mengeset aliran recirculation untuk menyediakan minimum flow pompa. untuk kasus menyediakan min flow pompa ini gak dibahas disini tp dilain artikel. intinya pompa membutuhkan min flow tertentu (case by case pompa) yg harus ada bagaimanapun caranya supaya pompa ini tetep bs berjalan dan gak rusak even saat flow dr suction yg gak tau kenapa dan bagaimana, mengecil. ada control valve yg otomatis bs mengecek sekaligus menyediakan flow sebesar min back to the suction. tp MAHAL!

ada cara lain yaitu dg merangkai seperti dibawah:

rangkaian-ro-untuk-resirkulasi-pompa.jpg

kalo pake CV yg otomatis td, saat normal flow, aliran yg menuju back to the vessel ditutup. aliaran yg menuju kvessel discharge baru akan ditutup ketika mencapai min flow, dan akan membuka aliran yg back to the vessel td, menyediakan aliran balik sebesar min flow pompa.

sedangkan untuk yg menggunakan RO, pada normal flow, aliran back td tetep ada. hanya jumlah alirannya dibatasi oleh RO dan pressurenya dibunuh smp menyerupai pressure vessel.

hal ini menyebabkan untuk aliran yg sama dibutuhkan pompa dg kapasitas dan kekuatan yg sedikit lebih untuk menyediakan aliran kembali tersebut selaluu ada sekaligus aliran yg harus ada.

beda yg jelas dr keduanya sebenernya di harga investasi awal dan operasi. kalo yg CV otomatis td harga investasi awal mahal tp biaya operasinya gak. tp kalo di rangkain yg RO kebalikannya. begityu…

hal lain, RO jg dipake di aliran menuju flare header, buat ngecilin pressure dr BDV/PRV sehingga gak terlalu besar pressure yg ada dialiran menuju flare td.

tp perlu jg diperhatikan bahwa perbedaan tekanan di hole orifice td bs merugikan.

  1. pressure drop tinggi berarti akan menyebabkan erosi, abrasi atau cavitasi yg akan merusak.

  2. terjadi joule dan thompson effect, yg (wekekek saya jg baru tau ini istilahnya) berarti penurunan tekanan menyebabkan penurunan temperatur, yg akan menyebabkan brittle/getas, bs memecahkan valve…

  3. noise yg mengganggu karena kecepatan tinggi dan vibrasi.

sizingnya cukup rumit (buat gue tentunya) tp intinya adalah kita tau pressure drop yg diinginkan, kita hitung diameter bore(lobang). dijaga supaya lobang gak kecil2 amat dg variasi banyak lobang, dan banyak plate. awalnya coba2 asumsi diameter, buat nyari konstanta2nya, terus dihitung diameter dr konstanta2 itu, trus di ulang mpe dpt diameter sama dg diameter asumsi…

5 Comments leave one →
  1. astari permalink
    August 27, 2007 3:19 am

    hi hi salam kenal gw org instrument yg kerja di EPC comp. tapi masih belajaran hehehe…..jd kudu menyerap ilmu dr berbagai pihak…anyway good article thx ya..

  2. upieks permalink*
    August 27, 2007 8:13 am

    hi hi jg, hehehe…namanya sounds familiar…i thought at first u are my friend.

    anyhoy salam kenal jg…saya jg masih br dan masih belajaran. juga kudu menyerap dr berbagai pihak…

    thx jg

  3. June 18, 2008 5:02 pm

    Mba Upiek,
    Pak Nugroho Wibisono juga menampilkan tulisannya di blog berikut:
    http://inkontrol.wordpress.com/
    Promosi blog kami yaaa…..

    Thanks,
    Nova

  4. January 3, 2010 3:17 am

    Thanx for the blogpost.

  5. denis permalink
    March 2, 2011 8:31 am

    Pada gambar system di atas, mengapa bypass/minimum flow line dipasang di downstream check valve ya? Kalo begitu, harus pasang check valve di minimum flow line dong?
    Bagaimana bila minimum flow line dipasang di upstream check valve?

    Apakah ada guidance untuk menentukan posisi minimum flow line ini?
    Mohon bimbingannya..
    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: