Skip to content

Reverse/direct atau A-O/A-C

May 3, 2007
by

Salah satu fitur yang ditawarkan oleh sebuah pengendali adalah kemampuannya untuk memberikan aksi secara reverse atau direct. Menspesifikasi apakah pengendali bekerja secara reverse atau direct merupakan hal yang sangat penting, kalau salah, bisa gawat hehe… Apa aja ya?

Untuk mengilustrasikan kenapa pake reverse atau direct, mari kita lihat gambar sebuah loop pengendali laju alir di bawah ini.

                                         flow-system.jpg

Misalkan si flow transmitter didesain untuk bekerja secara direct acting sehingga sinyal outputnya meningkat seiring dengan meningkatnya laju alir. Maksudnya? Direct acting maksutnya output pengendali meningkat kalau inputnya meningkat. Reverse acting ya sebaliknya. Dalam kasus ini, yang jadi input adalah laju alir yang terukur dan yang jadi outputnya adalah sinyal yang diberikan ke actuator (valve). Anggap sinyalnya itu udara dan anggap valvenya ini didesain sebagai air-to-open (A-O).

Pertanyaannya, apakah yang terjadi kalau dia didesain direct acting? Benarkah pilihan itu? Atau mestinya reverse acting? Tentunya, ketika laju alir terukur lebih tinggi dari set point, kita pengen mengurangi laju alir tersebut dengan menutup valve. Untuk sebuah valve yang air-to-open (A-O), sinyal output pengendali harus diturunkan, sehingga jelaslah semestinya pengendali didesain reverse acting.

Tapi gimana kalu valve pengendalinya air-to-close (A-C)? Ya kalo sekarang jadinya ketika laju alir terlalu tinggi, sinyal output pengendali harus lebih tinggi untuk menutup valve. Jadinya, pengendali direct-acting yang harus dipake.

Lantas, kapankah kita pake valve A-O atau A-C? Biasanya, pemilihan A-O atau A-C didasarkan pada pertimbangan safety. Kita bisa memilih bagaimana valve harus beroperasi (full flow atau no flow) ketika terjadi kegagalan pada transmitter. Jadi, valve A-O seringkali disebut sebai fail-closed, dan A-C disebut sebagai fail-open.

Misalnya ni, mana yang harus dipake A-O atau A-C?

1. Tekanan steam di dalam koil pemanas reaktor. Kalo ini nampak yang dipake A-O deh untuk memastikan kalo transmitter mengalami kegagalan, reaktor akan overheat. Ini biasanya mendatangkan masalah yang lebih serius dibanding kalo reaktor beroperasi pada temperatur terlalu rendah.

2. Laju alir reaktan yang masuk ke reaktor polimerisasi. Pemilihan A-O/A-C tergantung pada aplikasi: A-O dipake kalo ingin mencegah reaktor banjir (tangki kepenuhan), A-C dipake kalo biasanya nilai laju alir reaktan dekat dengan flow rate maksimum dari valve, sehingga kalo valve dibuka penuh, akan terjadi sedikit sekali perubahan pada kondisi operasi.

3. Laju efluen dari pengolahan limbah ke sungai. Yang dipake tentunya A-O, jaga-jaga kalo terjadi pembuangan yang berlebihan, atau kalo tiba-tiba proses pengolahan limbahnya gak bener (kadar bahan berbahayanya masih tinggi).

4. Laju alir air pendingin ke kondenser kolom distilasi. A-C yang dipake untuk memastikan uapyang keluar terkondensasi sepenuhnya sebelum mencapai receiver.

Terinspirasi waktu ditanyai supervisor soal A-O/A-C… & setelah baca Seborg, Edgar, & Mellichamp.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: